Selasa, 04 Desember 2012

SYAIR, PANTUN, GURINDAM


Syair      dan  Pantun
(Kelas  XII  IPA C)
-          Ini pantun ini jendela
Ini badan ini muka
Jangan pernah merasa kecewa
Kecewa itu hal biasa

-          Daun nangka daun talas 
Kelompok itu paling malas
Biarpun malas yang penting cerdas
Asal jangan bersifat keras

-          Ini  kursi itu meja
Kelompok C anaknya manja-manja
Walaupun manja tetap istimewa
Tapi pasti tak akan juara

-          Kelompok A kelompok sombong
Biar sombong tidak suka bohong
Biar jujur orangnya ompong-ompong
Biar kami ompong kalian mirip lontong





-          Ada mukenah ada sejadah
Mari kita pergi beribadah
Sebelum beribadah mari kita pergi berwuduh
Sesudah wuduh mari kita sholat subuh

-          Nama saya  Muh.Kaesar
Namanya bagus orangnya kasar
Walaupun kasar bapaknya hansip pasar
Lihat pasar ingat kaesar

-          Bank PBD bank Pres
Kelompok B orangnya stress
Biar stress yang penting sukses
Suksesnya karena jualan es
-          Jam dinding jam tangan
Kelompok B orang menawan
Biar menawan tapi ketinggalan zaman
Yang penting mempunyai banyak kawan

Pantun

-          Pohon kelapa pohon pinang
Buah mangga harum manis
Tantu saja aku meminang
Aduhai adik yang paling manis

-          Makan permen makan kacang
Minum susu rasanya manis
Jangan lupa bawa emas segunung
Jika kauu memang tulus

-          Lihat monyet makan pisang
Pisangnya  jatuh langsung tertancap
Jangankan emas segunung
Seisi dunia pun aku sanggup

-          Beli minyak mereknya sania
Tebang pisang caranya di bacok
Biar hartamu sedunia
Kamu tetap cowok cucok

-          Baju batik baju kaos
Kotak pos kotak saran
Lihat kami calon-calon bos
Lihat kalian calon-calon pengangguran

-          Pakai sepatu pakai kaos
Jangan lupa pakia dasi
Buat apa jadi bos
Kalau tujuannya hanya korupsi


-          Istri  pak Anwar guru BK
Guru bahasa inggris namanya pak Sultan
Biar kalian lolos dari KPK
Tapi tidak di tangan Tuhan

-          Menyeberang sungai pakai jembatan
Lihat ombak nabrrak karang
Urusan itu belakangan
Karena umur masih panjang

-          Nasi hangat nasi basi
Makannya di ruang BK
Biar kami pada korupsi
Yang penting kami tidak tertangkap KPK

-          Simpan rokok diatas asbak
Simpan buku di atas meja
Memang kau tidak tertangkap KPK
Tapi kamu banyak dosa

-          Lihat bedak lihat cermin
Pakai kacamata pakai celana
Dosa itu belakangan
Masih ada waktu untuk bertaubat



                            SYAIR DAN PANTUN KELAS  XII  IPA  D

 
Kelompok A lawan kelompok C
Vitamin A Vitamin C
Sebelum bertanding minum sirup ABC
Kalau mau naik motor bawa SIM C

Ke toko membeli kacang mente
Suriadi suka makan tempe
Pergi ke pasar naik mobil pete-pete
Sampai di rumah jadi bete

Anak kecil makan permen
Bangun rumah pakai semen
Kami ini orang yang keren
Jadi orang jangan cemen
Buah manggis rasanya manis
Kami belajar elektrik statis
Kuburan tempatnya mistis
Kami mencari jodoh yang romantis

Kelompok B lawan kelompok D
Kami ini dari IPA D
Kami berani kami bertekad
Mengikuti sunnah nabi Muhammad

Terang bulang terang di kali
Ada cahaya ada matahari
Tak ada asap kalau tak ada api
Jadi orang jangan

Buah mangga buah manggis
Mangga masak rasanya manis
Saya ini orangnya manis
Suka cowok berkumis tipis

Terang bulan terang di kali
buaya hidup disangka mati
Jangan percaya mulut lelaki
Berani sumpah takut mati

Air gelas air cangkir
Ketua osis ketua MPK
Jadi orang harus jujur
Jangan suka berbohong seperti anak TK

Buah Palu naik kegenteng
Palunya dibawa suci
Eh loe jangan sok ganteng
muka loe kayak pantat panci

Bawa ember bawa sekuteng
Ada tombol sedang dipencet
Eh loe jangan sok ganteng
Muka loe kayak daki monyet

Jambu air jambu monyet
Rasanya enak bikin ngiler
Biar muka kami kayak daki monyet
Tapi banyak yang naksir

Tukang kayu tukang semir
Kalau dingin pakai koyo
Siapa bilang banyak yang naksir
Kenyataannya loe masih jomblo

Merek  toshiba merek acer
Dua-duanya merek laptop
Biar kata otak encer
Asal kami jadi orang top

Hari senin hari selasa
yang lalu biarlah berlalu
Aku harus rajin bekerja
Agar aku bisa melamarmu

Minggu depan hari minggu
Mau kepasar beli panci
Kamu bisa melamarku
Asal kamu tidak bisa kayak banci

Sebelum tidur dinyanyikan nina bobo
Buah nangka di curi Faisal
Aku ganteng kayak Lee Minho
Kalau menolak kamu pasti menyesal

Sule minum air sebotol
Pemain OVJ namanya Parto

Faktanya nggak kayak Lee Minho
Jalan-jalan Ke kota Poso
jangan lupa membeli salep encok
Biarpun tidak kayak Lee Minho
Yang penting aku tidak cucok
 
 
Tawuran Gurindam
XII IPA Akselerasi



Mari kita belajar giat
Agar kelak tidak tersesat

                                                          Tugas-tugas hendaklah dikerjakan
                                                          Agar kelak tidak jadi beban
Menuntut ilmu sampai negeri Cina
Agar ilmu jadi sempurna     
                                                          Indonesia sungguh terseok
                                                          Karena generasinya pada mabok

Negeri ini, negeri korupsi
Dikarenakan orang berdasi

                                                          Wahai generasi Indonesia
                                                          Jangan mati sia-sia

Terbanglah laksana burung Garuda
Agar tak tertinggal masa





                                                          Ukirlah Indonesia dengan tanganmu
                                                          Bukan dengan semangat yang semu

Ditinggal masa jadi beban hidup
Cita Negara pun jadi redup

                                                          Jangan sia-siakan umur yang ada
                                                          Dengan hidup yang tak bermakna

Langkahkan kaki, mantapkan pikiran
Niscaya kau akan meraih kemenangan

                                                          Jangan lupakan perjuangan pahlawan
                                                          Jika ingin hidup dalam kehormatan

Sekarang dunia selebar daun kelor
Makanya, mari kita jadi pemikir

                                                          Sungguh seruan masih menghantui
                                                          Pilih merdeka atau mati

Raih ilmu dengan keringatmu
Agar Indonesia bias maju

                                                          Apa guna sekolah tinggi
                                                          Jika diri tak berbudi


Bukan maksud mengecilkan hati
Hanya ingin mengingatkan diri
                                                          Walaupun bel telah berbunyi
                                                          Menuntut ilmu tiada henti

Berjuang di belakang, sukses di depan
Pesan orang tua, di kandung badan
                                                          Menuntut ilmu setinggi mungkin
                                                          Demi masa depan yang menjamin

Hidup tak berguna tanpa budi pekerti
Mari kita menasihati diri

Kamis, 27 September 2012

KUTIPAN FAVORIT


Jika engkau belum mempunyai ilmu hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Allah.
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
 maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; karena Allah, dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima mata uang palsumu
Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Allah,
 maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya wahai pejalan
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi Karena Allah telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepadaKu, karena Akulah jalan itu.”

Kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa". Itulah yang terjadi pada orang-orang seperti Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Kim Dae Jung, dll.
Jadi jika Anda sedang menderita hari ini, apa pun sebabnya: bersiap-siaplah menjadi "orang luar biasa.
" Barangsiapa mau menjadi guru, biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri sebelum mengajar orang lain, dan biarkan dia mengajar dengan teladan sebelum mengajar dengan kata-kata. Sebab mereka yang mengajar dirinya sendiri dengan memperbaiki perbuatan-perbuatannya sendiri lebih berhak atas penghormatan dan kemuliaan.



Sinopsis Roman Sitti Nurbaya


Pengarang : Marah Rusli (7 Agustus 1889-17 Januari 1968)
Penerbit : Balai Pustaka
Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adapt-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya.
Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi.
Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita.
Di Malaysia, novel ini terbit pula dalam edisi bahasa Melayu. Pada tahun 1963 saja, di Malaysia itu, Sitti Nurbaya sudah mengalami cetak ulang ke-11. Untuk pengajaran sastra di tingkat sekolah lanjutan, novel ini merupakan salah satu novel wajib.
Tahun 1991, TVRI menyiarkan sinetron Sitti Nurbaya dengan pemeran utamanya Novia Kolopaking (sebagai Sitti Nurbaya) dan Gusti Randa (sebagai Samsulbahri).
Inilah ringkasannya.
Sutan Mahmud Syah termasuk salah seorang bangsawan yang cukup terkenal di Padang. Penghulu yang sangat disegani dan dihormati penduduk disekitarnya itu, mempunyai putra bernama Samsulbahri, anak tunggal yang berbudi dan berprilaku baik. Bersebelahan dengan rumah Sutan Mahmud Syah, tinggal seorang Saudagar kaya bernama Baginda Sulaiman. Putrinya, Sitti Nurbaya, juga merupakan anak tunggal keluarga kaya-raya itu.
Sebagaimana umumnya kehidupan bertetangga, hubungan antara keluarga Sutan Mahmud Syah dan keluarga Baginda Sulaiman, berjalan dengan baik. Begitu pula hubungan Samsulbahri dan Sitti Nurbaya. Sejak anak-anak sampai usia mereka menginjak remaja, persahabatan mereka makin erat. Apalagi, keduanya belajar di sekolah yang sama. Hubungan kedua remaja itu berkembang menjadi hubungan cinta. Perasaan tersebut baru mereka sadari ketika Samsulbahri akan berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.
Sementara itu, Datuk Meringgih, salah seorang saudagar kaya di Padang, berusaha untuk menjatuhkan kedudukan Baginda Sulaiman. Ia menganggap Baginda Sulaiman sebagai saingannya yang harus disingkirkan, di samping rasa iri hatinya melihat harta kekayaan ayah Sitti Nurbaya itu. “Aku sesungguhnya tidak senang melihat perniagan Baginda Sulaiman, makin hari makin bertambah maju, sehingga berani ia bersaing dengan aku. Oleh sebab itu, hendaklah ia dijatuhkan,” demikian Datuk Meringgih berkata (hlm. 92). Ia kemudian menyuruh anak buahnya untuk membakar dan menghancurkan bangunan, took-toko, dan semua harta kekayaan Baginda Sulaiman.
Akal busuk Datuk Meringgih berhasil. Baginda Sulaiman kini jatuh miskin. Namun, sejauh itu, ia belum menyadari bahwa sesungguhnya, kejatuhannya akibat perbuatan licik Datuk Meringgih. Oleh karena itu, tanpa prasangka apa-apa, ia meminjam uang kepada orang yang sebenarnya akan mencelakakan Baginda Sulaiman.
Bagi Datuk Meringgih kedatangan Baginda Sulaiman itu ibarat “Pucuk dicinta ulam tiba”, karena memang hal itulah yang diharapkannya. Rentenir kikir yang tamak dan licik itu, kemudian meminjamkan uang kepada Baginda Sulaiman dengan syarat harus dapat dilunasi dalam waktu tiga bulan. Pada saat yang telah ditetapkan, Datuk Meringgih pun dating menagih janji.
Malang bagi Baginda Sulaiman. Ia tak dapat melunasi utangnya. Tentu saja Datuk Meringgih tidak mau rugi. Tanpa belas kasihan, ia akan mengancam akan memenjarakan Baginda Sulaiman jika utangnya tidak segera dilunasi, kecuali apabila Sitti Nurbaya diserahkan untuk dijadikan istri mudanya.
Baginda Sulaiman tentu saja tidak mau putrid tunggalnya menjadi korban lelaki hidung belang itu walaupun sbenarnya ia tak dapat berbuat apa-apa. Maka, ketika ia sadar bahwa dirinya tak sanggup untuk membayar utangnya, ia pasrah saja digiring polisi dan siap menjalsni hukuman. Pada saat itulah, Sitti Nurbaya keluar dari kamarnya dan menyatakan bersedia menjadi istri Datuk Meringgih asalkan ayahnya tidak dipenjarakan. Suatu putusan yang kelak akan menceburkan Sitti Nurbaya pada penderitaan yang berkepanjangan.
Samsulbahri, mendengar peristiwa yang menimpa diri kekasihnya itu lewat surat Sitti Nurbaya, juga ikut prihatin. Cintanya kepada Sitti Nurbaya tidak mudah begitu saja ia lupakan. Oleh karena itu, ketika liburan, ia pulang ke Padang, dan menyempatkan diri menengok Baginda Sulaiman yang sedang sakit. Kebetulan pula, Sitti Nurbaya pada saat yang sama sedang menjenguk ayahnya. Tanpa sengaja, keduanya pun bertemu lalu saling menceritakan pengalaman masing-masing.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol, datanglah Datuk Meringgih. Sifat Meringgih yang culas dan selalu berprasangka itu, tentu saja menyangka kedua orang itu telah melakukan perbuatan yang tidak pantas. Samsulbahri yang tidak merasa tidak melakukan hal yang tidak patut, berusaha membela diri dari tuduhan keji itu. Pertengkaran pun tak dapat dihindarkan.
Pada saat pertengkaran terjadi, ayah Sitti Nurbaya berusaha datang ke tempat kejadian. Namun, karena kondisinya yang kurang sehat, ia jatuh dari tangga hingga menemui ajalnya.
Ternyata ekor perkelahian itu tak hanya sampai di situ. Ayah Samsulbahri yang merasa maluatas tuduhan yang ditimpakan kepada anaknya, kemudian mengusir Samsulbahri. Pemuda itu terpaksa kembali ke Jakarta. Sementara Sitti Nurbaya, sejak ayahnya meninggal merasa dirinya telah bebas dan tidak perlu lagi tunduk dan patuh kepada Datuk Meringgih. Sejak saat itu ia tinggal menumpang bersama salah seorang familinya yang bernama Aminah.
Sekali waktu, Sitti Nurbaya bermaksud menyusul kekasihnya ke Jakarta. Namun, akibat tipu muslihat dan akal licik Datuk Meringgih yang menuduhnya telah mencuri harta perhiasan bekas suaminya itu, Sitti Nurbaya terpaksa kembali ke Padang. Oleh karena Sitti Nurbaya tidak bersalah, akhirnya ia bebas dari tuduhan. Namun, Datuk Meringgih masih juga belum puas. Ia kemudian menyuruh seseorang untuk meracun Sitti Nurbaya. Kali ini, perbuatannya berhasil. Sitti Nurbaya meninggal karena keracunan.
Rupanya, berita kematian Sitti Nurbaya membuat sedih ibu Samsulbahri. Ia kemudian jatuh sakit, dan tidak berapa lama kemudian meninggal dunia.
Berita kematian Sitti Nurbaya dan ibu Samsulbahri, sampai juga ke Jakarta. Samsulbahri yang merasa amat berduka, mula-mula mencoba bunuh diri. Beruntung, temannya, Arifin, dapat menggagalkan tindakan nekat Samsulbahri. Namun, lain lagi berita yang sampai ke Padang. Di kota ini, Samsulbahri dikabarkan telah meninggal dunia.
Sepuluh tahun berlalu. Samsulbahri kini telah menjadi serdadu kompeni dengan pangkat letnan. Ia juga sekarang lebih dikenal dengan nama Letnan Mas. Sebenarnya, ia menjadi serdadu kompeni bukan karena ia ingin mengabdi kepada kompeni, melainkan terdorong oleh rasa frustasinya mendengar orang-orang yang dicintainya telah meninggal. Oleh karena itu, ia sempat bimbang juga ketika mendapat tugas harus memimpin pasukannya memadamkan pemberontakan yang terjadi di Padang. Bagaimanapun, ia tak dapat begitu saja melupakan tanah leluhurnya itu. Ternyata pemberontakan yang terjadi di Padang itu didalangi oleh Datuk Meringgih.
Dalam pertempuran me;awan pemberontak itu, Letnan Mas mendapat perlawanan cukup sengit. Namun, akhirnya ia berhasil menumpasnya, termasuk juga menembak Datuk Meringgih, hingga dalang pemberontak itu tewas. Namun, Letnan Mas luka parah terkena sabetan pedang Datuk Meringgih.
Rupanya, kepala Letnan Mas yang terluka itu, cukup parah. Ia terpaksa dirawat dirumah sakit. Pada saat itulah timbul keinginan Letnan Mas untuk berjumpa dengan ayahnya. Ternyata, pertemuan yang mengharukan antara “Si anak yang hilang” dan ayahnya itu merupakan pertemuan terakhir sekaligus akhir hayat kedua orang itu. Oleh karena setelah Letnan Mas menyatakan bahwa ia Samsulbahri, ia mengembuskan napas di depan ayahnya sendiri. Adapun Sutan Mahmud Syah, begitu tahu bahwa Samsulbahri yang dikiranya telah meninggal beberapa tahun lamanya tiba-tiba kini tergolek kaku menjadi mayat akhirnya pun meninggal dunia pada keesokan harinya.

Selasa, 27 Desember 2011

KISAH 2 TAHUN YANG LALU

Kisah 2 tahun lalu masih membekas di hatiku dan tak pernah terhapus oleh waktu. Serpihan-serpihan masa  itu belum hilang, kadang membara atau malah berurai air mata ketika mengenangnya. Semuanya begitu tiba-tiba, tanpa peringatan ataupun pertanda yang bisa sedikit menyiapkan hati untuk menerima kenyataan yang tak mampu dihindari. Hanya kata andai yang bisa kuucapkan ketika aku benar-benar telah dihadapkan pada mimpi buruk yang kadang muncul di pikiranku. Andai dia masih hidup!?

08 Desember 2009, pagi yg cerah!

Aku dan kakakku mempersiapkan diri menyambut hari selasa yang penuh dengan jadwal kuliah masing-masing. Matahari belum tampak pagi itu kecuali sinarnya yang menyelinap di antara awan yang melayang perlahan terhembus angin. Aku melanjutkan tugas mid-semester yang semalam belum selesai padahal deadline-nya hari itu juga. Tiada yang aneh, semua aktivitas masih lancar seperti biasanya termasuk ponsel kakakku yang melantungkan nada dering yang memekakkan telingaku.

“Halo,,, siapa,,,,qmu Nur?,,, owh,,,, iya ,,,, qmi akan pulang,,, tidak akan pakai motor,,,,,,,,,,,.”

Aku diam mendengar percakapan singkat itu, aku tahu maksudnya tapi aku memilih berdiri dan tetap diam melihat kakakku menelpon beberapa orang keluarga kami. Tidak ada yang kurasakan saat itu,  tidak ada yang penting untuk kuekspresikan terhadap situasi ini, aku seakan mati rasa dan hatiku sepertinya membeku untuk memberikan respon.

“Kemasi beberapa bajumu, qT pulang, bapak sudah tidak ada.”

Masih diam, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku belum menangis meskipun telah melihat kakakku menguraikan air mata. Di mana rasa ibaku? Kenapa aku tak merasakan apa pun bahkan untuk menitikkan air mata untuk ayahku? Semuanya seakan masih mimpi bagiku, aq belum percaya bahwa kini aku kehilangan sosok ayah.

Aku mengemasi tugas mid-ku kemudian menitipkannya kepada teman seruanganku. Di sinilah aku mulai sadar ketika dia bertanya kenapa aku tidak ke kampus, aku berusaha tersenyum dan menjawab ayahku meninggal. Yeah,,, aku menitikkan air mata yang pertama kali atas kepergiannya ketika aku mengatakan dengan bibirku sendiri bahwa ayahku telah tiada.

******

Bendera putih berkibar melambai-lambai menyambutku di depan rumah, orang-orang yang berkerumun memperhatikan kedatangan kami, saat itu rasanya semua mata tertuju pada kami. Aku mengikuti kakakku dari belakang yang menyalami beberapa orang yang melayat. Perlahan-lahan aku menaiki tangga dan masih berharap aku segera terbangun dan mimpi buruk yang kujalani akan pudar dari penglihatanku. Namun, kini retinaku menangkap sesosok tubuh terbaring kaku tertutup sarung di tengah-tengah orang yang menangisi kepergiannya. Aku memeluk ponakanku yang tiba-tiba datang menghampiriku sambil menyebut namaku. Pipiku panas tapi air mata tak mengalir sama sekali. Aku berdiri menyaksikan kakakku memeluk tubuh tak bernyawa itu, sekali lagi kupeluk ponakanku dan kukatakan `uwang bapaknya` sedang tidur. Aku kemudian duduk di samping ayahku, kusentuh tangannya yang sedang terlipat dibalik sarung yang menutupinya. Dia sama sekali tak bergerak, hatiku serasa menjerit ketika tak medapat respon darinya, kepeluk dia seerat-eratnya namun tetap diam. Ya Tuhan, Engkau  benar-benar telah  mengambil dia dari sisiku. Ya Tuhan, aku sangat takut ditinggal mati orang yang kusayangi dan kini Engkau membiarkan aku merasakannya. Ya Tuhan, Engkau benar-benar tega memisahkanku darinya, tidakkah Engkau merasa iba melihatku yang tercabik-cabik karena ditinggalkan. Ya Allah, maafkan aku karena tidak ikhlas membiarkannya pergi, tempatkanlah ayahku di sisi-Mu sebagai salah satu hamba-Mu yang mulia.

Kutatap wajah pucatnya yang seakan tanpa beban, kupeluk dia sekali lagi sebelum dimandikan, kucium dahinya lalu kubisikkan permintaan maafku atas kekuranganku menjadi anak yang belum bisa dibanggakannya, atas segala kesalahanku, dan kubisikkan juga terima kasihku  atas semua pengorbanannya untukku yang belum dan tak mungkin kubalas.

Ada satu orang lagi yang ingin kupeluk, kulihat dia duduk di kerumunan tamu yang datang. Nafasku kutarik dalam-dalam ketika melihat wajah tua ibuku, kutatap matanya yang berkaca-kaca. Dia memang sosok ibu yang sangat tegar, sosok ibu yang akan selalu kubanggakan, sampai detik itu aku yakin dia tidak membuang setetes air matanya untuk ayahku tapi kutemukan pandangan matanya yang hampa lagi kosong. Kudekati dia lalu kudekap erat, “de`ni gaga bapakmu, nak “, bisikannya lemah terdengar diantara isak tangisku.

******

Kulihat tandu itu dibawa pergi meninggalkan rumahku. Bukan, bukan tandu saja, tapi ayahku. Dia dibawa pergi dan aku tidak akan pernah melihat dia kembali, aku tidak akan pernah melihat senyumnya lagi, tidak akan pernah mendengar dia marah, dan sangat menyakitkan aku tidak akan pernah mendengar dia memanggilku `nak`. Aku teringat kata-katanya ketika menasehatiku “Nak, jika aku dan ettamu (ibuq) telah tiada tidak akan ada lagi yang melindungimu, mintalah perlindungan pada Allah, tidak akan ada lagi yang memperdulikanmu bahkan saudara-saudaramu, kamu akan sendiri dan kesepian mengarungi dunia maka jagalah dirimu baik-baik.”

Aku mengikuti ayahku dari belakang karena aku tidak ingin kehilangan dirinya, aku terus menatap tandu itu sampai dia terbaring di sisi liang lahatnya. Kuliat lubang itu dengan hampa. Di sanakah ayahku akan terbaring kaku? Dia akan kesepian di sana, dia akan terjepit oleh tanah, dia akan berada dalam gelapnya bawah tanah (Ya Allah, lapangkanlah kuburan ayahku, jnganlh Engkau biarkan dia kesepian, terangilah kuburannya dengan cahaya_Mu yang paling terang). Aku berdiri di sisi lahatnya melihat dia perlahan-lahan memasuki tempat peristirahatanya yang terakhir (Ya Allah, tempatkanlah ayahku di surga-Mu). Aku berusaha untuk merelakan kepergiannya ketika untuk yang terakhir kalinya aku melihat tubuhnya yang terbungkus kain kapan menghadap ke barat dan pandanganku pada ayahku tiba-tiba dihalangi papan. Lubang tempat ayahku bersemayam tuk selama-lamanya ditimbuni perlahan-lahan, terus dan terus ditimbuni hingga tanah di atas tubuh ayahku menjadi gundukan.

Aku menatap gundukan tanah itu kemudian memejamkan mata. Kutetapkan dalam hatiku agar bersiap-siap menghadapi dunia tanpa dia namun aku menitikkan air mata bahwa dia takkan pernah ada lagi untukku. Kulangkahkan kakiku pergi bersama yang lainnya, kubiarkan ayahku terbaring sendirian di sana.
(Satu hal yang aku sesali kenapa aku menunda menelpon dia malam itu, setidaknya aku mungkin masih bisa mendengar suaranya untuk yang terakhir kalinya).


My Family

Memori Buat Ayahanda

Kisah setahun lalu masih membekas di hatiku dan tak pernah terhapus oleh waktu. Serpihan-serpihan masa  itu belum hilang, kadang membara atau malah berurai air mata ketika mengenangnya. Semuanya begitu tiba-tiba, tanpa peringatan ataupun pertanda yang bisa sedikit menyiapkan hati untuk menerima kenyataan yang tak mampu dihindari. Hanya kata andai yang bisa kuucapkan ketika aku benar-benar telah dihadapkan pada mimpi buruk yang kadang muncul di pikiranku. Andai dia masih hidup!?

08 Desember 2009, pagi yg cerah!
Aku dan kakakku mempersiapkan diri menyambut hari selasa yang penuh dengan jadwal kuliah masing-masing. Matahari belum tampak pagi itu kecuali sinarnya yang menyelinap di antara awan yang melayang perlahan terhembus angin. Aku melanjutkan tugas mid semester yang semalam belum selesai padahal deadlinenya hari itu juga. Tiada yang aneh, semua aktivitas masih lancar seperti biasanya termasuk ponsel kakakku yang melantungkan nada dering yang memekakkan telingaku.

“Halo,,, siapa,,,,qmu Nur?,,, owh,,,, iya ,,,, qmi akan pulang,,, tidak akan pakai motor,,,,,,,,,,,.”

Aku diam mendengar percakapan singkat itu, aku tahu maksudnya tapi aku memilih berdiri dan tetap diam melihat kakakku menelpon beberapa orang keluarga kami. Tidak ada yang kurasakan saat itu,  tidak ada yang penting untuk kuekspresikan terhadap situasi ini, aku seakan mati rasa dan hatiku sepertinya membeku untuk memberikan respon.

“Kemasi beberapa bajumu, qT pulang, bapak sudah tidak ada.”

Masih diam, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku belum menangis meskipun telah melihat kakakku menguraikan air mata. Di mana rasa ibaku? Kenapa aku tak merasakan apa pun bahkan untuk menitikkan air mata untuk ayahku? Semuanya seakan masih mimpi bagiku, aq belum percaya bahwa kini aku kehilangan sosok ayah.
Aku mengemasi tugas mid-ku kemudian menitipkanya kepada teman seruanganku. Di sinilah aku mulai sadar ketika dia bertanya kenapa aku tidak ke kampus, aku berusaha tersenyum dan menjawab ayahku meninggal. Yeah,,, aku menitikkan air mata yang pertama kali atas kepergiannya ketika aku mengatakan dengan bibirku sendiri bahwa ayahku telah tiada.

******

Bendera putih berkibar melambai-lambai menyambutku di depan rumah, orang-orang yang berkerumun memperhatikan kedatangan kami, saat itu rasanya semua mata tertuju pada kami. Aku mengikuti kakakku dari belakang yang menyalami beberapa orang yang melayat. Perlahan-lahan aku menaiki tangga dan masih berharap aku segera terbangun dan mimpi buruk yang kujalani akan pudar dari penglihatanku. Namun, kini, retinaku menangkap sesosok tubuh terbaring kaku tertutup sarung ditengah-tengah orang yang menangisi kepergiannya. Aku memeluk ponakanku yang tiba2 datang menghampiriku sambil menyebut namaku. Pipiku panas tapi air mata tak mengalir sama sekali. Aku berdiri menyaksikan kakakku memeluk tubuh tak bernyawa itu, sekali lagi kupeluk ponakanku dan kukatakan `uwang bapaknya` sedang tidur. Aku kemudian duduk di samping ayahku, kusentuh tangannya yang sedang terlipat dibalik sarung yang menutupinya. Dia sama sekali tak bergerak, hatiku serasa menjerit ketika tak medapat respon darinya, kepeluk dia seerat2nya namun tetap diam. Ya Tuhan, Engkau  benar2 telah  mengambil dia dari sisiku. Ya Tuhan, aku sangat takut ditinggal mati orang yang kusayangi dan kini Engkau membiarkan aku merasakannya. Ya Tuhan, Engkau benar-benar tega memisahkanku darinya, tidakkah Engkau merasa iba melihatku yang tercabik-cabik karena ditinggalkan. Ya Allah, maafkan aku karena tidak ikhlas membiarkannya pergi, tempatkanlah ayahku di sisi-Mu sebagai salah satu hamba-Mu yang mulia.

Kutatap wajah pucatnya yang seakan tanpa beban, kupeluk dia sekali lagi sebelum dimandikan, kucium dahinya lalu kubisikkan permintaan maafku atas kekuranganku menjadi anak yang belum bisa dibanggakannya, atas segala kesalahanku, dan kubisikkan juga terima kasihku  atas semua pengorbanannya untukku yang belum dan tak mungkin kubalaz.

Ada satu orang lagi yang ingin kupeluk, kulihat dia duduk di kerumunan tamu yang datang. Nafasku kutarik dalam-dalam ketika melihat wajah tua ibuku, kutatap matanya yang berkaca-kaca. Dia memang sosok ibu yang sangat tegar, sosok ibu yang akan selalu kubanggakan, sampai detik itu aku yakin dia tidak membuang stetes air matanya untuk ayahku tapi kutemukan pandangan matanya yang hampa lagi kosong. Kudekati dia lalu kudekap erat, “de`ni gaga bapakmu, nak “, bisikannya lemah terdengar diantara isak tangisku.

******

Kulihat tandu itu di bawa pergi meninggalkan rumahku. Bukan, bukan tandu saja, tapi ayahku. Dia dibawa pergi dan aku tidak akan pernah melihat dia kembali, aku tidak akan pernah melihat senyumnya lagi, tidak akan pernah mendengar dia marah, dan sangat menyakitkan aku tidak akan pernah mendengar dia memanggilku `nak`. Aku teringat kata2nya ketika menasehatiku “Nak, jika aku dan ettamu (ibuq) telah tiada tidak akan ada lagi yang melindungimu, mintalah perlindungan pada Allah, tidak akan ada lagi yang memperdulikanmu bahkan saudara2mu, kamu akan sendiri dan kesepian mengarungi dunia maka jagalah dirimu baik-baik.”

Aku mengikuti ayahku dari belakang karena aku tidak ingin kehilangan dirinya, aku terus menatap tandu itu sampai dia terbaring di sisi liang lahatnya. Kuliat lubang itu dengan hampa. Di sanakah ayahku akan terbaring kaku? Dia akan kesepian di sana, dia akan terjepit oleh tanah, dia akan berada dalam gelapnya bawah tanah (Ya Allah, lapangkanlah kuburan ayahku, jnganlh Engkau biarkan dia kesepian, terangilah kuburannya dengan cahaya_Mu yang paling terang). Aku berdiri di sisi lahatnya melihat dia perlahan-lahan memasuki tempat peristirahatanya yang terakhir (Ya Allah, tempatkanlah ayahku d surga-Mu). Aku berusaha untuk merelakan kepergiannya ketika untuk yang terakhir kalinya aku melihat tubuhnya yang terbungkus kain kapan menghadap ke barat dan pandanganku pada ayahku tiba2 dihalangi papan. Lubang tempat ayahku bersemayam tuk selama-lamanya ditimbuni perlahan-lahan, terus dan terus ditimbuni hingga tanah di atas tubuh ayahku menjadi gundukan.

Aku menatap gundukan tanah itu kemudian memejamkan mata. Kutetapkan dalam hatiku agar bersiap-siap menghadapi dunia tanpa dia namun aku menitikkan air mata bahwa dia takkan pernah ada lagi untukku. Kulangkahkan kakiku pergi bersama yang lainnya, kubiarkan ayahku terbaring sendirian di sana.

(Satu hal yang aku sesali kenapa aku menunda menelpon dia malam itu, setidaknya aku mungkin masih bisa mendengar suaranya untuk yang terakhir kalinya).

I MISS U DAD
(RABBIGFIRLII WAALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA RABBAYAANI SHAGIIRAA)

Minggu, 12 Desember 2010

GAYA BAHASA

A. Pengertian Gaya Bahasa

Gaya bahasa menurut Kridalaksana (2001) adalah ”Pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, atau pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu dan keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra.” Dari sini dapat dipahami bahwa gaya bahasa adalah ciri khusus yang dilakukan oleh seorang penutur atau penulis dalam memilih kata-kata yang akan diungkapkannya atau di dalam menyempaikan maksud-maksudnya.
Gaya bahasa biasa juga disebut juga dengan istilah majas, misalnya pada Soedjita (1986). Gaya bahasa dipandang sebagai bagian dari gaya bahasa dalam retorika dikenal dengan istilah style. Secara umum gaya bahasa dapat diartikan sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau penutur (Keraf, 1990) atau cara penggunaan bahasa oleh penutur untuk menyampaikan gagasan dan memperoleh efek-efek tertentu. Dengan gaya bahasa, penutur bermaksud menjadikan paparan bahasanya (1) menarik, (2) kaya (padat), (3) jelas, (4) lebih mampu menyampaikan gagasan yang ingin disampaikan, (5) menciptakan suasana tertentu, dan (6) menampailkan efek keindahan (Asrori, 1998).
Dalam kaitan itulah pembicaraan tentang gaya bahasa dipandang sebagai pembicaraan tentang keindahan pemakaian bahasa. Keindahan bahasa tersebut bukan berarti pemborosan kata yang tidak berguna, melainkan keindahan yang tetap memperhatikan prinsip kederhanaan dan efektivitas. Ahmadi (1991) mengemukakan bahwa keindahan bahasa adalah keseimbangan proporsional, harmonisasi, dan menyatu.
Menurut Keraf (1990) gaya bahasa dapat dikelompokkan menurut berbagai segi, antara lain berdasarkan struktur kalimat dan berdasarkan langsung tidaknya makna. Dua kategori gaya bahasa tersebut termasuk figurasi gagasan (figurasi of thought) dan bentuk retorikal (rhetorical figures). Figurasi gagasan yaitu penggunaan kata atau kelompok kata dengan acuan yang berbeda atau menyimpang dari acuannya yang sudah lazim melalui perbandingan atau pertautan. Sedangkang bentuk retorika adalah wujud penggunaan kata atau kelompok kata yang berkaitan dengan cara pengurutan dan pertalian satuan hubungan kata atau kelompok kata yang tidak berimplikasi pada pergeseran atau penyimpangan maknanya, misalnya paralelisme, repetisi, dan klimaks.
Gaya bahasa pada umumnya dipandang sebagai alat untuk manampilkan gagasan secara menarik dan indah. Hal itu bukan berarti bahwa penggunaan gaya bahasa dalam wacana merupakan pemborosan. Penggunaan gaya bahasa, selain untuk menimbulkan efek estetik juga adalah untuk menjadikan gagasan yang dikemukakan lebih jelas diterima pendengar dan pembaca. Dalam hal ini Ahmadi (1990) mengemukakan bahwa keindahan bahasa adalah tetap memperhatikan keseimbangan, proporsional, keharmonisan, kesatuan, dan efektifitas.
Penggunaan gaya bahasa dalam wacana tidak dapat dilepaskan dari fungsi bahasa sebagai alat untuk menyampaikan gagasan. Maksudnya gaya bahasa sebagai salah satu unsur bahasa yang digunakan juga merupakan alat untuk menyampaikan gagasan.
Dalam berbahasa, kadang-kadang penggunaan bahasa secara lugas tidak dapat menjelaskan gagasan yang ingin disampaikan, lebih-lebih jika gagasan tersebut bersifat abstrak dan berada di luar pengalaman manusia. Dalam kaitan ini, Wahab (1991) mengemukakan bahwa gaya bahasa digunakan dalam wacana karena mempunyai kekuatan untuk menyatakan (1) pikiran yang berada jauh di luar pengalaman manusia, (2) konsep-konsep yang abstrak dengan sesuatu yang konkrit, (3) gejala yang belum dikenal dengan menggunakan simbol-simbol yang sudah dikenal, dan (4) pikiran yang tidak dapat dirasakan dengan istilah yang dapat dirasakan.
Selain keempat alasan tersebut, Khasairi (1993) mengidentifikasi adanya tiga alasan lain penggunaan gaya bahasa dalam wacana. Jika ditambahkan pada apa yang dikemukakan Wahab terdahulu, ketiga alasan tersebut adalah (5) mengungkapkan pikiran yang tidak disenangi dalam bentuk yang disenangi, (6) mengungkapkan hal-hal yang memerlukan bukti-bukti, dan (7) mempersingkat informasi yang akan disampaikan.

B. Kategori Gaya Bahasa

Secara garis besar, gaya bahasa dapat dibedakan atas empat kelompok yaitu :
1. Gaya bahasa perbandingan
2. Gaya bahasa sindiran
3. Gaya bahasa penegas
4. Gaya bahasa pertentangan

1. Gaya Bahasa Perbandingan

a. Gaya Metafora yaitu perbandingan secara langsung sebuah benda yang
satu dengan yang lain karena mempunyai kesamaan sifat, keadaan, atau perbuatan.
Contoh : Raja siang malu menampakkan sinarnya.
Penjarakan saja sampah masyarakat itu !
Lautan manusia telah membanjiri stadion.

b. Gaya Personifikasi yaitu perbandingan dengan cara menghidupkan atau menganggap benda mati, tumbuh-tumbuhan, binatang seperti manusia.
Contoh : Wahai angin, sampaikan salamku kepadanya.
Daun nyiur melambai-lambai ditiup angina.
Matahari rupanya ogah menampakkan sinarnya.


c. Gaya hiperbola yaitu perbandingan yang berlebih-lebihan dengan menggunakan kata-kata yang mengandung arti atau rasa lebih hebat dari keadaan yang semestinya.
Contoh : Pada akhir-akhir ini harga barang makin melangit.
Perang saudara antara Iran dan Irak benar-benar mengakibatkan banjir darah.
Perkataanmu cukup membengkakkan telinga.

d. Gaya asosiasi yaitu perbandingan terhadap sesuatu benda yang sudah disebutkan, sehingga akan dapat meimbulkan asosiasi atau tanggapan atau tanggapan dengan benda yang diperbandingan.
Contoh : Kemauannya keras bagai baja.
Kalau diskusi jangan membisu seperti patung.
Matanya memerah bagai api.

e. Gaya litotes yaitu penyebutan sesuatu dengan mengurangi kenyataan yang sebenarnya dengan maksud merendahkan diri.
Contoh : Silahkan mampir di gubug kami, (padahal rumahnya seperti istana)
Maaf, saya tidak dapat menyiapkan apa-apa bagimu. (padahal yang disediakan sangat banyak)
Saya hanya tahu sedikit-sedikit tentang memasak. (padahal ia ahli memasak)

f. Gaya Eufemisme yaitu penghalusan rasa bahasa yang dirasa kasar, tak sopan, dan tak sedap didengar dengan kata-kata yang dianggapnya sopan enak didengar, dan tidak menyinggung perasaan.
Contoh : Pak, bolehkah saya ke belakang ? (ke toilet)
Pada akhir-akhir ini ia telah berubah akal. (gila)
Apakah bapak telah dipanggil ke meja hijau? (pengadilan)

g. Gaya Alegori yaitu pemakaian beerapa kiasan secara utuh dan berurutan dalam sebuah lukisan pendek.
Contoh : Bunga kuncup belum lagi mekar, bagai melanda kembang berguguran. (penggambaran anak remaja yang ditimpa kemalangan)
Waspadalah terhadap ombak besar dan batu karan, sebab kalau Anda tidak tahan dengan ombak dan tidak waspada terhadap batu karang, pasti tidak akan mencapai pulau. (nasihat yang dilontarkan kepada kedua mempelai yang akan menjalani hidup barunya)

h. Gaya Metonimia yaitu penggantian benda yang dimaksud dengan menyebutkan nama atau predikat atau sifat yang biasa terdapat pada benda itu.
Contoh : Si Cebol sudah tiga hari tidak ada di rumah. (padahal namanya bukan si cebol)
Tolong, belikan gudang garam, Nak! (yang dimaksud rokok bermerk gudang garam)
Kemarin, yamahanya hilang. (yang dimaksud motornya)

i. Gaya Sinekdose
Gaya bahasa ini dibedakan atas dua jenis yaitu :
1. Sinekdose parsprototo yaitu penyebutan sebagian, sedangkan yang dimaksudkan keseluruhan.
Contoh : Saya sudah lama tidak bertemu batang hidungnya.
(yang dimaksud seluruh tubuhnya)
Berapa jiwa penghuni rumah ini ? (yang dimaksud seluruh tubuhnya)
Tiap kepala diwajibkan membayar Rp5.000,00. (yang dimaksud seluruh tubuhnya)

2. Sinekdose totem proparto yaitu penyebutan keseluruhan sedangkan yang dimakduskan sebagian.
Contoh : Unismuh Makassar menang malawang Unismuh Malang dalam pertandingan bulu tangkis kemarin.
Makassar sedang menggalakkan program pemberantakan buta huruf.

j. Gaya simbolik yaitu pelukisan sesuatu dengan benda lain sebagai simbol, karena antara keduanya ada kesamaan sifat, keadaan dan perbuatan.
Contoh : Lintah daratlah yang merusak perekonomian desa.
Jangan berdekatan dengan bunglon itu.
Raihlah bintang di langit.


2. Gaya Bahasa Sindiran
a. Gaya Ironi yaitu pembalikan maksud atas sesuatu yang diucapkan dengan maksud menyidir.
Contoh : Sedap sekali masakanmu. (padahal sebenarnya masakannya tidak enak)
Oh, perangaimu bagus benar, ya! (padahal yang bersangkutan nakal)
Ah tidak apa-apa, belum malam, kok! (padahal sudah jam 24.00)

b. Gaya Sinisme yaitu sindiran yang lebih kasar daripada ironi dengan melebih-lebihkan perasaan yang ada pada dirinya.
Contoh : Jijik aku melihat mukamu.
Harum benar badanmu, ya ? (padahal sebenarnya baunya tidak enak)

c. Gaya sarkasme yaitu sindiran atau ejekan yang terkasar bila dibandingkan dengan gaya ironi dan sinisme. Kata-kata yang diucapkan terlihat kasar dan tidak sopan. Gaya bahasa ini biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh : Monyet, pergilah dari sini sebelum saya bubur badanmu !
Hanya setan yang tidak mau diajak damai.
Muak aku melihat ocehanmu.





3. Gaya Bahasa Penegas

a. Gaya pleonasme yaitu penggunaan kata yang berlebihan untuk menerangkan atau menjelaskan suatu kata yang sebenarnya sudah cukup jelas.
Contoh : Mereka mundur ke belakang .
Saya melihat dengan mata kepala sendiri.
Kalau kamu naik ke atas, saya tidak mau mengajakmu.

b. Gaya Repetisi yaitu pengulangan kata yang sudah disebut dengan kata-kata yang sama maknanya dengan maksud memberikan tekanan atau mengeraskan arti.
Contoh : Bukan cemburu, buka iri hati, dan bukan dengki, tetapi aku ingin melihatmu.
Selama darahku mengalir, selama jantungku masih berdenyut, aku tetap bersamu.

c. Gaya paralelisme yaitu pengulangan kalimat atau kata yang sama dengan maksud memberikan penegasan.
Contoh : Aku akan memperhatikan permintaanmu.
Aku akan memperhatikan kehendakmu.
Aku akan memperhatikan maksudmu.

Aku bekerja ini karena engkau.
Aku berusaha ini karena engkau.
Aku sampai begini karena engkau.
d. Gaya Klimaks yaitu pengurutan kata yang maksudnya makin meninggi, membesar, atau meluas.
Contoh : Mereka mengeluh, meratap, meraung minta belas kasihan.
Bukan hanya satu dua yang menderita akaibat olehmu, tetapi beratus bahkan beribu orang.

e. Gaya Antiklimaks yaitu pengurutan kata yang maksudnya makin menurun, mengecil, dan menyempit.
Contoh : Jangankan sepuluh ribu, lima ribu bahkan sepersen pun saya tidak punya.
Pada hari kemerdekaan semua gedung, rumah, gubug, mengibarkan bendera merah putih.



f. Gaya asindeton yaitu penyebutan urutan kata dengan menggunakan kata-kata sambung atau hubung.
Contoh : Kaya, enak, aman, muda, bahagia menjadi cita-cita setiap orang.
Garpu, sendok, piring, gelas telah tersedia di dapur.

g. Gayaa polisindeton yaitu penyebutan urutan kata dengan menggunakan kata-kata sambung atau hubung.

Contoh : Kakek dan neneknya, bapak dan ibunya, putra dan putrinya semuanya pergi ke makam monyangngnya.
Kerbau dan sapinya, kambing dan dombanya, ayam dan itiknya, serta betet dan gelatiknya tidak terhitung banyaknya.


h. Gaya retoris yaitu penggunaan kalimat tanya dengan maksud menyatakan kesangsian, keharuan, atau bersifat mengejek.
Contoh : Inilah yang namanya merdeka ?
Apakah engkau ingin melarat ?
Eh, kamu berani dengan saya, ya ?

3. Gaya Bahasa Pertentangan

a. Gaya Paradoks yaitu penggunaan kata yang berlawanan antara satu dengan yang lain, dengan maksud menghaluskan arti.
Contoh : Dia besar, tetapi kecil. (maksudnya : tubuhnya besar, tetapi pikiranya seperti anak kecil)
Ia pandai tetapi bodoh. (maksudnya: Ia pandai dalam bidang profesinya, tetapi bodoh dalam pengalaman)

b. Gaya Antitesis yaitu penyusunan kata yang berlawanan artinya.
Contoh : Suka dukanya, hidup matinya terserah padaku.
Tua muda, besar kecil, pria wanita, meratap kesakitan.
c. Gaya oksimoron yaitu menggunakan kata-kata yang bertentangan dalam frase yang sama.
Contoh : Bahasa merupakan alat pemersatu, tetapi dapat pula menjadi alat pemecah belah.


d. Gaya kontradiksio in terminis yaitu penyangkalan atau pengecualian atas sesuatu yang telah disebut.
Contoh : Semua siswa di kelas ini pandai kecuali Si Udin.
Kamar terasa hening, hanya terdengar jam weker saja.