Selasa, 04 Desember 2012

SYAIR, PANTUN, GURINDAM


Syair      dan  Pantun
(Kelas  XII  IPA C)
-          Ini pantun ini jendela
Ini badan ini muka
Jangan pernah merasa kecewa
Kecewa itu hal biasa

-          Daun nangka daun talas 
Kelompok itu paling malas
Biarpun malas yang penting cerdas
Asal jangan bersifat keras

-          Ini  kursi itu meja
Kelompok C anaknya manja-manja
Walaupun manja tetap istimewa
Tapi pasti tak akan juara

-          Kelompok A kelompok sombong
Biar sombong tidak suka bohong
Biar jujur orangnya ompong-ompong
Biar kami ompong kalian mirip lontong





-          Ada mukenah ada sejadah
Mari kita pergi beribadah
Sebelum beribadah mari kita pergi berwuduh
Sesudah wuduh mari kita sholat subuh

-          Nama saya  Muh.Kaesar
Namanya bagus orangnya kasar
Walaupun kasar bapaknya hansip pasar
Lihat pasar ingat kaesar

-          Bank PBD bank Pres
Kelompok B orangnya stress
Biar stress yang penting sukses
Suksesnya karena jualan es
-          Jam dinding jam tangan
Kelompok B orang menawan
Biar menawan tapi ketinggalan zaman
Yang penting mempunyai banyak kawan

Pantun

-          Pohon kelapa pohon pinang
Buah mangga harum manis
Tantu saja aku meminang
Aduhai adik yang paling manis

-          Makan permen makan kacang
Minum susu rasanya manis
Jangan lupa bawa emas segunung
Jika kauu memang tulus

-          Lihat monyet makan pisang
Pisangnya  jatuh langsung tertancap
Jangankan emas segunung
Seisi dunia pun aku sanggup

-          Beli minyak mereknya sania
Tebang pisang caranya di bacok
Biar hartamu sedunia
Kamu tetap cowok cucok

-          Baju batik baju kaos
Kotak pos kotak saran
Lihat kami calon-calon bos
Lihat kalian calon-calon pengangguran

-          Pakai sepatu pakai kaos
Jangan lupa pakia dasi
Buat apa jadi bos
Kalau tujuannya hanya korupsi


-          Istri  pak Anwar guru BK
Guru bahasa inggris namanya pak Sultan
Biar kalian lolos dari KPK
Tapi tidak di tangan Tuhan

-          Menyeberang sungai pakai jembatan
Lihat ombak nabrrak karang
Urusan itu belakangan
Karena umur masih panjang

-          Nasi hangat nasi basi
Makannya di ruang BK
Biar kami pada korupsi
Yang penting kami tidak tertangkap KPK

-          Simpan rokok diatas asbak
Simpan buku di atas meja
Memang kau tidak tertangkap KPK
Tapi kamu banyak dosa

-          Lihat bedak lihat cermin
Pakai kacamata pakai celana
Dosa itu belakangan
Masih ada waktu untuk bertaubat



                            SYAIR DAN PANTUN KELAS  XII  IPA  D

 
Kelompok A lawan kelompok C
Vitamin A Vitamin C
Sebelum bertanding minum sirup ABC
Kalau mau naik motor bawa SIM C

Ke toko membeli kacang mente
Suriadi suka makan tempe
Pergi ke pasar naik mobil pete-pete
Sampai di rumah jadi bete

Anak kecil makan permen
Bangun rumah pakai semen
Kami ini orang yang keren
Jadi orang jangan cemen
Buah manggis rasanya manis
Kami belajar elektrik statis
Kuburan tempatnya mistis
Kami mencari jodoh yang romantis

Kelompok B lawan kelompok D
Kami ini dari IPA D
Kami berani kami bertekad
Mengikuti sunnah nabi Muhammad

Terang bulang terang di kali
Ada cahaya ada matahari
Tak ada asap kalau tak ada api
Jadi orang jangan

Buah mangga buah manggis
Mangga masak rasanya manis
Saya ini orangnya manis
Suka cowok berkumis tipis

Terang bulan terang di kali
buaya hidup disangka mati
Jangan percaya mulut lelaki
Berani sumpah takut mati

Air gelas air cangkir
Ketua osis ketua MPK
Jadi orang harus jujur
Jangan suka berbohong seperti anak TK

Buah Palu naik kegenteng
Palunya dibawa suci
Eh loe jangan sok ganteng
muka loe kayak pantat panci

Bawa ember bawa sekuteng
Ada tombol sedang dipencet
Eh loe jangan sok ganteng
Muka loe kayak daki monyet

Jambu air jambu monyet
Rasanya enak bikin ngiler
Biar muka kami kayak daki monyet
Tapi banyak yang naksir

Tukang kayu tukang semir
Kalau dingin pakai koyo
Siapa bilang banyak yang naksir
Kenyataannya loe masih jomblo

Merek  toshiba merek acer
Dua-duanya merek laptop
Biar kata otak encer
Asal kami jadi orang top

Hari senin hari selasa
yang lalu biarlah berlalu
Aku harus rajin bekerja
Agar aku bisa melamarmu

Minggu depan hari minggu
Mau kepasar beli panci
Kamu bisa melamarku
Asal kamu tidak bisa kayak banci

Sebelum tidur dinyanyikan nina bobo
Buah nangka di curi Faisal
Aku ganteng kayak Lee Minho
Kalau menolak kamu pasti menyesal

Sule minum air sebotol
Pemain OVJ namanya Parto

Faktanya nggak kayak Lee Minho
Jalan-jalan Ke kota Poso
jangan lupa membeli salep encok
Biarpun tidak kayak Lee Minho
Yang penting aku tidak cucok
 
 
Tawuran Gurindam
XII IPA Akselerasi



Mari kita belajar giat
Agar kelak tidak tersesat

                                                          Tugas-tugas hendaklah dikerjakan
                                                          Agar kelak tidak jadi beban
Menuntut ilmu sampai negeri Cina
Agar ilmu jadi sempurna     
                                                          Indonesia sungguh terseok
                                                          Karena generasinya pada mabok

Negeri ini, negeri korupsi
Dikarenakan orang berdasi

                                                          Wahai generasi Indonesia
                                                          Jangan mati sia-sia

Terbanglah laksana burung Garuda
Agar tak tertinggal masa





                                                          Ukirlah Indonesia dengan tanganmu
                                                          Bukan dengan semangat yang semu

Ditinggal masa jadi beban hidup
Cita Negara pun jadi redup

                                                          Jangan sia-siakan umur yang ada
                                                          Dengan hidup yang tak bermakna

Langkahkan kaki, mantapkan pikiran
Niscaya kau akan meraih kemenangan

                                                          Jangan lupakan perjuangan pahlawan
                                                          Jika ingin hidup dalam kehormatan

Sekarang dunia selebar daun kelor
Makanya, mari kita jadi pemikir

                                                          Sungguh seruan masih menghantui
                                                          Pilih merdeka atau mati

Raih ilmu dengan keringatmu
Agar Indonesia bias maju

                                                          Apa guna sekolah tinggi
                                                          Jika diri tak berbudi


Bukan maksud mengecilkan hati
Hanya ingin mengingatkan diri
                                                          Walaupun bel telah berbunyi
                                                          Menuntut ilmu tiada henti

Berjuang di belakang, sukses di depan
Pesan orang tua, di kandung badan
                                                          Menuntut ilmu setinggi mungkin
                                                          Demi masa depan yang menjamin

Hidup tak berguna tanpa budi pekerti
Mari kita menasihati diri

Kamis, 27 September 2012

KUTIPAN FAVORIT


Jika engkau belum mempunyai ilmu hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Allah.
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
 maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; karena Allah, dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima mata uang palsumu
Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Allah,
 maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya wahai pejalan
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi Karena Allah telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepadaKu, karena Akulah jalan itu.”

Kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa". Itulah yang terjadi pada orang-orang seperti Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Kim Dae Jung, dll.
Jadi jika Anda sedang menderita hari ini, apa pun sebabnya: bersiap-siaplah menjadi "orang luar biasa.
" Barangsiapa mau menjadi guru, biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri sebelum mengajar orang lain, dan biarkan dia mengajar dengan teladan sebelum mengajar dengan kata-kata. Sebab mereka yang mengajar dirinya sendiri dengan memperbaiki perbuatan-perbuatannya sendiri lebih berhak atas penghormatan dan kemuliaan.



Sinopsis Roman Sitti Nurbaya


Pengarang : Marah Rusli (7 Agustus 1889-17 Januari 1968)
Penerbit : Balai Pustaka
Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adapt-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya.
Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi.
Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita.
Di Malaysia, novel ini terbit pula dalam edisi bahasa Melayu. Pada tahun 1963 saja, di Malaysia itu, Sitti Nurbaya sudah mengalami cetak ulang ke-11. Untuk pengajaran sastra di tingkat sekolah lanjutan, novel ini merupakan salah satu novel wajib.
Tahun 1991, TVRI menyiarkan sinetron Sitti Nurbaya dengan pemeran utamanya Novia Kolopaking (sebagai Sitti Nurbaya) dan Gusti Randa (sebagai Samsulbahri).
Inilah ringkasannya.
Sutan Mahmud Syah termasuk salah seorang bangsawan yang cukup terkenal di Padang. Penghulu yang sangat disegani dan dihormati penduduk disekitarnya itu, mempunyai putra bernama Samsulbahri, anak tunggal yang berbudi dan berprilaku baik. Bersebelahan dengan rumah Sutan Mahmud Syah, tinggal seorang Saudagar kaya bernama Baginda Sulaiman. Putrinya, Sitti Nurbaya, juga merupakan anak tunggal keluarga kaya-raya itu.
Sebagaimana umumnya kehidupan bertetangga, hubungan antara keluarga Sutan Mahmud Syah dan keluarga Baginda Sulaiman, berjalan dengan baik. Begitu pula hubungan Samsulbahri dan Sitti Nurbaya. Sejak anak-anak sampai usia mereka menginjak remaja, persahabatan mereka makin erat. Apalagi, keduanya belajar di sekolah yang sama. Hubungan kedua remaja itu berkembang menjadi hubungan cinta. Perasaan tersebut baru mereka sadari ketika Samsulbahri akan berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.
Sementara itu, Datuk Meringgih, salah seorang saudagar kaya di Padang, berusaha untuk menjatuhkan kedudukan Baginda Sulaiman. Ia menganggap Baginda Sulaiman sebagai saingannya yang harus disingkirkan, di samping rasa iri hatinya melihat harta kekayaan ayah Sitti Nurbaya itu. “Aku sesungguhnya tidak senang melihat perniagan Baginda Sulaiman, makin hari makin bertambah maju, sehingga berani ia bersaing dengan aku. Oleh sebab itu, hendaklah ia dijatuhkan,” demikian Datuk Meringgih berkata (hlm. 92). Ia kemudian menyuruh anak buahnya untuk membakar dan menghancurkan bangunan, took-toko, dan semua harta kekayaan Baginda Sulaiman.
Akal busuk Datuk Meringgih berhasil. Baginda Sulaiman kini jatuh miskin. Namun, sejauh itu, ia belum menyadari bahwa sesungguhnya, kejatuhannya akibat perbuatan licik Datuk Meringgih. Oleh karena itu, tanpa prasangka apa-apa, ia meminjam uang kepada orang yang sebenarnya akan mencelakakan Baginda Sulaiman.
Bagi Datuk Meringgih kedatangan Baginda Sulaiman itu ibarat “Pucuk dicinta ulam tiba”, karena memang hal itulah yang diharapkannya. Rentenir kikir yang tamak dan licik itu, kemudian meminjamkan uang kepada Baginda Sulaiman dengan syarat harus dapat dilunasi dalam waktu tiga bulan. Pada saat yang telah ditetapkan, Datuk Meringgih pun dating menagih janji.
Malang bagi Baginda Sulaiman. Ia tak dapat melunasi utangnya. Tentu saja Datuk Meringgih tidak mau rugi. Tanpa belas kasihan, ia akan mengancam akan memenjarakan Baginda Sulaiman jika utangnya tidak segera dilunasi, kecuali apabila Sitti Nurbaya diserahkan untuk dijadikan istri mudanya.
Baginda Sulaiman tentu saja tidak mau putrid tunggalnya menjadi korban lelaki hidung belang itu walaupun sbenarnya ia tak dapat berbuat apa-apa. Maka, ketika ia sadar bahwa dirinya tak sanggup untuk membayar utangnya, ia pasrah saja digiring polisi dan siap menjalsni hukuman. Pada saat itulah, Sitti Nurbaya keluar dari kamarnya dan menyatakan bersedia menjadi istri Datuk Meringgih asalkan ayahnya tidak dipenjarakan. Suatu putusan yang kelak akan menceburkan Sitti Nurbaya pada penderitaan yang berkepanjangan.
Samsulbahri, mendengar peristiwa yang menimpa diri kekasihnya itu lewat surat Sitti Nurbaya, juga ikut prihatin. Cintanya kepada Sitti Nurbaya tidak mudah begitu saja ia lupakan. Oleh karena itu, ketika liburan, ia pulang ke Padang, dan menyempatkan diri menengok Baginda Sulaiman yang sedang sakit. Kebetulan pula, Sitti Nurbaya pada saat yang sama sedang menjenguk ayahnya. Tanpa sengaja, keduanya pun bertemu lalu saling menceritakan pengalaman masing-masing.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol, datanglah Datuk Meringgih. Sifat Meringgih yang culas dan selalu berprasangka itu, tentu saja menyangka kedua orang itu telah melakukan perbuatan yang tidak pantas. Samsulbahri yang tidak merasa tidak melakukan hal yang tidak patut, berusaha membela diri dari tuduhan keji itu. Pertengkaran pun tak dapat dihindarkan.
Pada saat pertengkaran terjadi, ayah Sitti Nurbaya berusaha datang ke tempat kejadian. Namun, karena kondisinya yang kurang sehat, ia jatuh dari tangga hingga menemui ajalnya.
Ternyata ekor perkelahian itu tak hanya sampai di situ. Ayah Samsulbahri yang merasa maluatas tuduhan yang ditimpakan kepada anaknya, kemudian mengusir Samsulbahri. Pemuda itu terpaksa kembali ke Jakarta. Sementara Sitti Nurbaya, sejak ayahnya meninggal merasa dirinya telah bebas dan tidak perlu lagi tunduk dan patuh kepada Datuk Meringgih. Sejak saat itu ia tinggal menumpang bersama salah seorang familinya yang bernama Aminah.
Sekali waktu, Sitti Nurbaya bermaksud menyusul kekasihnya ke Jakarta. Namun, akibat tipu muslihat dan akal licik Datuk Meringgih yang menuduhnya telah mencuri harta perhiasan bekas suaminya itu, Sitti Nurbaya terpaksa kembali ke Padang. Oleh karena Sitti Nurbaya tidak bersalah, akhirnya ia bebas dari tuduhan. Namun, Datuk Meringgih masih juga belum puas. Ia kemudian menyuruh seseorang untuk meracun Sitti Nurbaya. Kali ini, perbuatannya berhasil. Sitti Nurbaya meninggal karena keracunan.
Rupanya, berita kematian Sitti Nurbaya membuat sedih ibu Samsulbahri. Ia kemudian jatuh sakit, dan tidak berapa lama kemudian meninggal dunia.
Berita kematian Sitti Nurbaya dan ibu Samsulbahri, sampai juga ke Jakarta. Samsulbahri yang merasa amat berduka, mula-mula mencoba bunuh diri. Beruntung, temannya, Arifin, dapat menggagalkan tindakan nekat Samsulbahri. Namun, lain lagi berita yang sampai ke Padang. Di kota ini, Samsulbahri dikabarkan telah meninggal dunia.
Sepuluh tahun berlalu. Samsulbahri kini telah menjadi serdadu kompeni dengan pangkat letnan. Ia juga sekarang lebih dikenal dengan nama Letnan Mas. Sebenarnya, ia menjadi serdadu kompeni bukan karena ia ingin mengabdi kepada kompeni, melainkan terdorong oleh rasa frustasinya mendengar orang-orang yang dicintainya telah meninggal. Oleh karena itu, ia sempat bimbang juga ketika mendapat tugas harus memimpin pasukannya memadamkan pemberontakan yang terjadi di Padang. Bagaimanapun, ia tak dapat begitu saja melupakan tanah leluhurnya itu. Ternyata pemberontakan yang terjadi di Padang itu didalangi oleh Datuk Meringgih.
Dalam pertempuran me;awan pemberontak itu, Letnan Mas mendapat perlawanan cukup sengit. Namun, akhirnya ia berhasil menumpasnya, termasuk juga menembak Datuk Meringgih, hingga dalang pemberontak itu tewas. Namun, Letnan Mas luka parah terkena sabetan pedang Datuk Meringgih.
Rupanya, kepala Letnan Mas yang terluka itu, cukup parah. Ia terpaksa dirawat dirumah sakit. Pada saat itulah timbul keinginan Letnan Mas untuk berjumpa dengan ayahnya. Ternyata, pertemuan yang mengharukan antara “Si anak yang hilang” dan ayahnya itu merupakan pertemuan terakhir sekaligus akhir hayat kedua orang itu. Oleh karena setelah Letnan Mas menyatakan bahwa ia Samsulbahri, ia mengembuskan napas di depan ayahnya sendiri. Adapun Sutan Mahmud Syah, begitu tahu bahwa Samsulbahri yang dikiranya telah meninggal beberapa tahun lamanya tiba-tiba kini tergolek kaku menjadi mayat akhirnya pun meninggal dunia pada keesokan harinya.